Sabtu, 17 Februari 2018

KEPEDULIAN TERHADAP SESAMA “MANUSIA”



Gambar diambil dari : kupasmerdeka.com

“Tidak penting apapun agamamu atau sukumu… kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu…” – KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Indonesia. Sebuah negara dengan tingkat keberagaman agama yang cukup tinggi. Setidaknya ada 6 agama yang diakui di negara ini. Walaupun disamping keenam agama itu pun masih banyak kepercayaan kepercayaan yang masih belum diakui namun terbukti sudah ada di Indonesia. Didalam keberagaman yang sangat banyak inilah Indonesia diikat oleh sebuah dasar negara yang bernama Pancasila. Dan pancasila yang sekarang ini menjadi dasar negara Indonesia   pun tercetuskan dari berbagai macam latar belakang. Sungguh contoh nyata kebersamaan yang sangat indah.


Merujuk ke “zaman now” seperti sekarang ini, kita bagaikan hidup di sebuah zaman dimana apapun yang kita lakukan bagai di latar belakangi oleh sesuatu. Sesuatu yang kini menjadi sebuah isu yang selalu hangat untuk dibicarakan. Sesuatu yang didasari oleh pemikiran bahwa “kita adalah yang paling benar, dan selain kita adalah salah” masih menjadi momok, menjadi setan yang terus menghantui kita. Pemahaman seperti inilah yang juga menciderai nilai Kebersamaan yang telah dibangun oleh para pendiri bangsa ini sendiri.

Berbicara tentang kepedulian terhadap sesama, Indonesia memerlukan agent agent dari masyarakat yang memang benar benar peduli terhadap sesama. Namun, hingga kini masih banyak masyarakat dari beberapa golongan tertentu yang menganggap dia sudah paling benar dan menganggap yang lainnya itu salah. Sehingga, hal itu membuat suasana menjadi tidak kondusif untuk menjalankan misi peduli terhadap sesama, khususnya peduli terhadap sesama manusia. Tidak peduli dengan perbedaan agama, suku, ras, dan golongan. Karena jauh diatas kepentingan agama, suku, ras, dan golongan kita sejatinya sama, sesama manusia.

Idealis memang perlu, namun jangan menolak mentah mentah perbedaan perspektif. Kepedulian terhadap sesama sudah diajarkan oleh masing masing agama. Dalam agama Islam surat An Nisaa ayat 36 yang artinya” Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”. Ayat tersebut secara jelas menjelaskan tentang kita harus berbuat baik terhadap orang tua, keluarga, anak anak yatim, orang orang miskin, tentang dekat dan jauh, teman, bahkan rang yang sedang dalam perjalanan. Lalu juga dikatakan bahwa , Allah sangat membenci orang yang sombong dan membanggakan diri sendiri. Pada intinya, kita wajib berbuat baik kepada semua manusia. Siapapun itu tanpa melihat latar belakang orang tersebut. Perintah yang sangat terpuji bagi kita semua dan harus kita laksanakan.

Setelah kita lihat perintah peduli terhadap sesama pada agama islam, mari coba kita lihat pada agama lain. Didalam agama kriten tertulis dalam kitabnya surat Yohanes 15:12 yang berbunyi “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” Dan diperjelas pada surat Galatia 5:14 yang berbunyi “Sebab hukum taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: "Kasihilah sesama manusia seperti dirimu sendiri!”. Dalam kitab tripitaka milik agama budha tertulis “Cinta sejati tidak pilih kasih. Tak bersyarat. Tak melekat. Dan selalu ingin berbagi kepada sesama.” Dalam agama hindu juga dijelaskan dalam Yajur Veda 26.2, disebutkan: "mitrasya ma caksusa sarvani bhutani samiksantam, mitarsya aham caksusa saruani bhutani samikse, mistrasya caksusa samisamahe'", artinya "semoga semua makhluk memandang kami dengan pandangan mata seorang sahabat, semoga kami pandang memandang dengan pandangan mata seorang sahabat". Dan didalam agama Konghucu, dalam kitabnya Kitab Lun Yu XII:5 berbunyi “Diempat Penjuru Lautan Semua Bersaudara.”

Setelah melihat kepada ayat-ayat diatas, merujuk kepada sebuah kesimpulan. Yaitu, peduli terhadap sesama. Semua agama memerintahkan kita untuk peka terhadap lingkungan sekitar, peduli terhadap sesama manusia tanpa ada pengecualian. Tanpa memandang latar belakang agama, ras, suku, dan golongan tertentu. Tidak ada dalam agama manapun yang memerintahkan kita untuk hanya menolong orang orang yang seagama. Seperti kutipan dari Gus Dur diatas, apabila kita berbuat baik kepada orang lain, orang lain tidak tanya apa agama kita dan dari mana suku kita. Karena sejatinya kita sama sama manusia.

Semua kegiatan saya bersumber pada cinta kasih saya yang kekal kepada umat manusia. Saya tidak mengenai perbedaan antara kaum keluarga dan orang luar, orang sebangsa dan orang asing, berkulit putih atau berwarna, orang Hindu atau orang India beragama lain, orang Muslim, Parsi, Kristen, atau Yahudi. Saya dapat mengatakan bahwa jiwa saya tidak mampu membuat perbedaan-perbedaan semacam itu 

" melalui suatu proses panjang melakukan disiplin keagamaan, saya telah berhenti membenci siapa pun juga selama lebih dari empat puluh tahun ini” -Mahatma Gandhi-



-Arham M. Azhari, 2018-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar