Gambar diambil dari : kupasmerdeka.com
“Tidak penting apapun agamamu atau sukumu… kalau kamu
bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya
apa agamamu…” – KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Indonesia.
Sebuah negara dengan tingkat keberagaman agama yang cukup tinggi. Setidaknya
ada 6 agama yang diakui di negara ini. Walaupun disamping keenam agama itu pun
masih banyak kepercayaan kepercayaan yang masih belum diakui namun terbukti
sudah ada di Indonesia. Didalam keberagaman yang sangat banyak inilah Indonesia
diikat oleh sebuah dasar negara yang bernama Pancasila. Dan pancasila yang
sekarang ini menjadi dasar negara Indonesia
pun tercetuskan dari berbagai
macam latar belakang. Sungguh contoh nyata kebersamaan yang sangat indah.
Merujuk
ke “zaman now” seperti sekarang ini, kita bagaikan hidup di sebuah zaman dimana
apapun yang kita lakukan bagai di latar belakangi oleh sesuatu. Sesuatu yang
kini menjadi sebuah isu yang selalu hangat untuk dibicarakan. Sesuatu yang
didasari oleh pemikiran bahwa “kita adalah yang paling benar, dan selain kita
adalah salah” masih menjadi momok, menjadi setan yang terus menghantui kita.
Pemahaman seperti inilah yang juga menciderai nilai Kebersamaan yang telah dibangun
oleh para pendiri bangsa ini sendiri.
Berbicara
tentang kepedulian terhadap sesama, Indonesia memerlukan agent agent dari masyarakat yang memang benar benar peduli terhadap
sesama. Namun, hingga kini masih banyak masyarakat dari beberapa golongan tertentu
yang menganggap dia sudah paling benar dan menganggap yang lainnya itu salah.
Sehingga, hal itu membuat suasana menjadi tidak kondusif untuk menjalankan misi
peduli terhadap sesama, khususnya peduli terhadap sesama manusia. Tidak peduli
dengan perbedaan agama, suku, ras, dan golongan. Karena jauh diatas kepentingan
agama, suku, ras, dan golongan kita sejatinya sama, sesama manusia.
Idealis
memang perlu, namun jangan menolak mentah mentah perbedaan perspektif.
Kepedulian terhadap sesama sudah diajarkan oleh masing masing agama. Dalam agama
Islam surat An Nisaa ayat 36 yang artinya” Sembahlah Allah dan janganlah kamu
mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang
ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim,
orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman
sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”. Ayat tersebut secara
jelas menjelaskan tentang kita harus berbuat baik terhadap orang tua, keluarga,
anak anak yatim, orang orang miskin, tentang dekat dan jauh, teman, bahkan rang
yang sedang dalam perjalanan. Lalu juga dikatakan bahwa , Allah sangat membenci
orang yang sombong dan membanggakan diri sendiri. Pada intinya, kita wajib
berbuat baik kepada semua manusia. Siapapun itu tanpa melihat latar belakang
orang tersebut. Perintah yang sangat terpuji bagi kita semua dan harus kita
laksanakan.
Setelah kita lihat perintah
peduli terhadap sesama pada agama islam, mari coba kita lihat pada agama lain.
Didalam agama kriten tertulis dalam kitabnya surat Yohanes 15:12 yang berbunyi
“Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah
mengasihi kamu.” Dan diperjelas pada surat Galatia 5:14 yang berbunyi “Sebab hukum
taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: "Kasihilah sesama manusia
seperti dirimu sendiri!”. Dalam kitab tripitaka milik agama budha tertulis
“Cinta sejati tidak pilih kasih. Tak bersyarat. Tak melekat. Dan selalu ingin
berbagi kepada sesama.” Dalam agama hindu juga dijelaskan dalam Yajur Veda 26.2, disebutkan:
"mitrasya ma caksusa sarvani bhutani samiksantam, mitarsya aham caksusa
saruani bhutani samikse, mistrasya caksusa samisamahe'", artinya
"semoga semua makhluk memandang kami dengan pandangan mata seorang
sahabat, semoga kami pandang memandang dengan pandangan mata seorang
sahabat". Dan didalam agama Konghucu, dalam kitabnya Kitab Lun Yu XII:5 berbunyi
“Diempat Penjuru Lautan Semua Bersaudara.”
Setelah melihat kepada
ayat-ayat diatas, merujuk kepada sebuah kesimpulan. Yaitu, peduli terhadap
sesama. Semua agama memerintahkan kita untuk peka terhadap lingkungan sekitar,
peduli terhadap sesama manusia tanpa ada pengecualian. Tanpa memandang latar
belakang agama, ras, suku, dan golongan tertentu. Tidak ada dalam agama manapun
yang memerintahkan kita untuk hanya menolong orang orang yang seagama. Seperti
kutipan dari Gus Dur diatas, apabila kita berbuat baik kepada orang lain, orang
lain tidak tanya apa agama kita dan dari mana suku kita. Karena sejatinya kita
sama sama manusia.
Semua kegiatan saya bersumber pada cinta kasih saya
yang kekal kepada umat manusia. Saya tidak mengenai perbedaan antara kaum
keluarga dan orang luar, orang sebangsa dan orang asing, berkulit putih atau
berwarna, orang Hindu atau orang India beragama lain, orang Muslim, Parsi,
Kristen, atau Yahudi. Saya dapat mengatakan bahwa jiwa saya tidak mampu membuat
perbedaan-perbedaan semacam itu
" melalui suatu proses panjang melakukan disiplin keagamaan,
saya telah berhenti membenci siapa pun juga selama lebih dari empat puluh tahun
ini” -Mahatma Gandhi-
-Arham M. Azhari, 2018-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar